Ki Hajar Dewantara vs R.M.P. Sostrokartono?
Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Mungkin kamu sudah tidak asing dengan 3 semboyan tersebut bukan? Tahukah kamu 2 dari 3 semboyan itu diciptakan oleh R.M.P. Sostrokartono. Jadi 3 asas pendidikan itu siapa sebenarnya yang menggagas? Kenapa yang lebih terkenal Ki Hajar Dewantara? Yuk simak penjelasannya dibawah ini ya 😊
Semboyan tut wuri handayani merupakan salah
satu dari tujuh asa perguruan nasional taman siswa. Ki Hajar Dewantara menggagas ketujuh asas perguruan nasional taman siswa yan merupakan
asas perjuangan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan sifat nasional dan
demokratis. Ketujuh asas tersebut yang secara singkat disebut “Asas 1922” adalah
sebagai berikut:
a)
Bahwa setiap orang mempunyai
hak untuk mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam
perikehidupan umum.
b)
Bahwa pengajaran harus
memberikan pengetahuan yang berfaedah, yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekakan
diri.
c)
Bahwa pengajaran harus
berdasarkan pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri.
d) Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada seluruh rakyat
e) Bahwa untuk mengejar kemerdekaan hidup yang seoenuh-penuhnya lahir maupun batin hendaknya diusahakan kekuatan sendiri, dan menolak bantuan apapun dan dari siappapun yang mengikat baik berupa ikatan batin
f) Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri maka mutlak harus membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan
g)
Bahwa dalam mendidik anak-anak
perlu adanya keikhlasan lahir dan batin untuk mengorbankan segala kepentingan
pribadi demi keselamatan dan kebahagiaan anak-anak
Jadi, asas tut wuri handayani merupakan inti dari asas pertama (butir a) dalam asas 1992. Lalu asas ini dikembangakan oleh Drs.R.M.P Sostrokartono (filsuf dan ahli Bahasa) dengan menambahkan dua semboyan lagi tapi tetap dasarnya adalah asas 1992. Lah namanya dikembangkan pasti ada dasar toh. Kedua semboyan yaitu Ing Ngarso Sung Tolodo, dan Ing Madyo Mangun Karso. Kini ketiga semboyan tersebut telah menyatu menjadi satu kesatuan asas yang sering kita baca dibuku-buku sejarah. Jadi jangan lupa lagi ya ada peranan dari Kakak R.A. Kartini (ups ketauan). Yowes udah dikasih tambahan bocoran itu. Luar biasa kan pemikiran pendahulu kita. Jadi, bagi kaum milenial diharapkan jangan mau kalah dengan pendahulunya. Semangat 😊









Inspiring sekali..
BalasHapusSalam literasi
Jika berkenan bisa saling kunjung ke https://memangsusah.wordpress.com/2020/09/17/kuliah-umum-pembelajaran-berbasis-tik-level-4-pembatik-nadiem-makarim/
Terimakasih ibuk. Ok buk siap 👍🙏
HapusAwal yang baik... Smg sukses Pak..
BalasHapusMaaf B Atika... Kok sy panggil sebtn Pak y... Krn ingt guru sejarah saya waktu SMA.
BalasHapus🤭
HapusMantap bu tulisannya👍
BalasHapusMantap bu tulisannya👍
BalasHapus🥰 terimakasih ibuk
HapusTerimakasih bapak🙏
BalasHapusTerimakasih bu atika, menambah wawasan saya tentang asal usul semboyan tersebut
BalasHapusKeren Bu tulisannya..., seperti di recharge lagi semangat menjadi pengajar dan pendidik...
BalasHapus